Udara Perspektif Al-Quran

Posted on Updated on


 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Udara merupakan pembauran gas yang mengisi ruang bumi,dan uap  air yang mengikutinya dari segala penjuru. Dulu, para filosof yunani berkeyakinan, bahwa udara adalah salah satu dari empat unsure yang seluruh alam bergantung padanya. Udara banyak sekali manfaatnya di dalam kehidupan kita. Membantu kita dalam proses pernafasan, membantu metabolisme kehidupan tumbuhan dan hewan. membantu sirkulasi kehidupan alam semesta, dan masih banyak lagi. Sadar ataupun tidak,  dunia ini dipenuhi dengan udara.

            Allah telah menciptakan udara ini disela-sela angin. Hal ini sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia di muka bumi ini. Apabila tidak demikian, bagaimana bisa kapal-kapal dijalankan. Kapal-kapal tersebut dapat bergerak karena adanya hembusan angin. Selain itu, udara dengan sifat lembutnya dan kemampuannya bergerak dapat menghilangkan bau-bau busuk yang mengendap di tempat-tempat kediaman manusia sehingga segala jenis hewan dan manusia akan terbebas dari segala wabah dan penyakit.

            Kemajuan zaman dan teknologi saat ini telah banyak membuat adanya polusi udara diberbagai tempat. Adanya polusi ini diakibatkan karena ulah manusia sendiri yang tidak dapat menjaga sumber daya udara yang telah diberikan oleh Allah yang mana diciptakannya udara ini adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia yakni bernafas. Apabila udara yang dihirup oleh manusia ini adala udara yang kotor maka tidak menutup kemungkinan banyak manusia yang akan terjangkit wabah penyakit yang terkait dengan paru-parunya. Sehingga dari permasalahan tersebut maka yang dapat dikatakan udara yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan seluruh alam ini adalah udara yang bersih dimana arti bersih ini adalah udara yang terbentuk dari gas-gas helium, nitrogen, oksigen dan karbon dioksida belum dapat terkontaminasi dengan asap-asap yang dibuat oleh manusia yang telah banyak tercampur oleh karbon-karbon.

1.2 Rumusan masalah

1. Apa kandungan udara dalam al-Qur’an?

2. Apa saja bahaya udara atau angin yang diterangkan dalam al-qur’an?

3. Bagaimana allah telah menjelaskan manfaat udara atau angin?

1.2  Tujuan

Untuk memgetahui tentang udara dalam perspektif Al-Qur’an,baik dari segi  bahaya, manfaat serta terbentuknya hujan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Udara

Udara merupakan pembauran gas yang mengisi ruang bumi,dan uap air yang mengikutinya dari segala penjuru. Dulu, para filosof yunani berkeyakinan, bahwa udara adalah salah satu dari empat unsure yang seluruh alam bergantung padanya. Dan banyak diantara filosof muslim yang menjadikan mereka sebagai rujukan.

Empat unsure tersebut adalah; tanah, air, udara, dan api. Teori ilmiah merekaini, tentu saja sesuai dengan standar zaman dan sebatas pemahaman rasional mereka yang dapat diterima. Dan ternyata, perkembangan ilmu pengetahuan modern telah membutikan bahwa keempat unsure ini bukanlahzat yang sederhana, akan tetapi merupakan persenyawaan dari berbagai unsur.[1]

Air misalnya, terdiri dari unsure nitrogen dan hydrogen, demikian juga tanah yang terbentuk daribelasan unsure berbeda. Adapun udara, ia terbentuk dari ratusan unsure, dengan dua unsure yang paling dominan. Nitrogen yang mencapai sekitar 78,084 persen dan oksigen sebanyak 20,964 persen, dan 1 persen sisanya adalah unsus-unsur lain.

Udara merujuk kepada campuran gas yang terdapat pada permukaan Bumi. Udara Bumi yang kering mengandungi 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbon dioksida, dan gas-gas lain.

Kandungan (elemen senyawa gas dan partikel) dalam udara akan berubah-ubah dengan ketinggian dari permukaan tanah.Demikian juga massa nya, akan berkurang seiring ketinggian, semakin dekat dengn lapisan troposfir, maka udara semakin tipis, sehingga melewati batas gravitasi bumi, maka udara akan hampa sama sekali.

Apabila benda hidup bernapas kandungan oksigen berkurang sementara kandungan karbon dioksida bertambah. Ketika tumbuhan menjalani sistem fotosintesa, oksigen kembali dibebaskan. Di antara gas-gas yang membentuk udara adalah seperti berikut :

2.2 Manfaat Udara (angin)

Udara banyak sekali manfaatnya di dalam kehidupan kita. Membantu kita dalam proses pernafasan, membantu metabolisme kehidupan tumbuhan dan hewan, membantu sirkulasi kehidupan alam semesta, dan masih banyak lagi. Sadar ataupun tidak,  dunia ini dipenuhi dengan udara. Udara ada dimana-mana. Bahkan diruang hampa pun ada udara. Telah sama-sama kita ketahui bersama bahwa gas nitrogen adalah gas yang pasif dan mandul, lain halnya dengan gas oksigen yang aktifdan sangat penting bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Karena setiap sel makhluk pasti mengandung oksigen, bahkan ia bias mencapai seperempat dari jumlah seluruh sel di dalam tubuh makhluk hidup. Termasuk hikmah kekuasaan Tuhan dalam penciptaan ala mini, bahwa Dia menciptakan udara dengan nitrogen dan sifatnya yang pasif sebagai kandungan mayoritasnya, yaitu78 persen dari udara. Kalau saja kandungan udara akan gas nitrogen kurang dari itu, niscaya akan berjatuhan bunga-bunga api dari angkasa luar karena mudahnya menembus lapisan bumi (hal itulah yang kerap kali terjadi) dan terbakarlah segala sesuatu yang ada pada permukaan bumi.[2]

Kedalaman udara diperkirakan tidak lebih dari 60 kilometer. Dan setiap oramg membutuhkan 15 kilogram udara perhari untuk dapat terus hidup, karena udara mengandung beberapa gas penting yang dibutuhkan manusia; seperti oksigen, misalnya. Dimana manusia tak dapat hidup tanpa oksigen. karena tanpa adanya oksigendalam diri manusia, ia tidak akan dapat bertahan lama, melainkan hanya dapat bertahan beberapa menit saja. Lain halnya, dengan ketiadaan makanan dan minuman dalam diri manusia, ia dapat hidup berhari-hari. Karena minimnya kebutuhan manusia akan makanan dan minuman, dibanding dengan kebutuhannya kepada oksigen. Meraa hanya membutuhkan 1,5 kilogaram makanan dan 3,5 kilogram air sehari. Sedangkan oksigen, seperti yang telah disebutkan diatas, manusia membutuhkan 15 kilogram perhari.

Selain dari sumber daya tanah dan air, ciptaan Allah SWT yang tidak kalah penting tetapi sering terlupakan atau disepelekan adalah udara. Padahal tanpa udara takkan pernah ada kehidupan. Tanpa udara bersih takkan diperoleh kehidupan sehat. Setiap hari rata-rata manusia menarik napas 26.000 kali berkisar antara 18 sampai 22 kali setiap menitnya.

Pentingnya udara sering diabaikan terutama karena sampai kini kita masih bisa memperolehnya tanpa harus mengeluarkan biaya. Padahal di Tokyo saat ini mulai dijual udara bersih (oksigen) dalam tabung. Suatu kejutan pertama yang menyadarkan manusia akan bahaya udara kotor terjadi di Inggris pada tahun 1952 yang dikenal dengan The Great London Smog yang menyebabkan sekitar 4000 jiwa melayang dan sejumlah besar penduduk menderita penyakit bronkitis, jantung dan berbagai penyakit pernapasan lainnya. Bahkan bangunan, lukisan, patung atau monumenpun hancur, karena asap dan gas mobil.
Polusi udara terjadi akibat konsumsi bahan bakar yang terus meningkat. Konsumsi tertinggi dari kendaraan bermotor (konsumsi bahan bakar solar dan bensin mencapai 170.000 liter pada tahun 1990-1991) dan kedua bahan bakar rumah tangga (rata-rata 84.000 liter). Hal itu menyebabkan CO2 dan timbal (Pb) melewati ambang batas yang diperkenankan. Ambang batas timbal (Pb) yang diperkenankan hanya 0,03 ug/l, kini rata-rata diatas 0,09 ug/l di beberapa tempat.[3]

2.3 Udara Dalam Perspektif Al-Qur’an

Para pemerhati al-qur’an tidak akan menemukan kata “udara” kecuali yang terdapat di dalam surat Ibrahim ayat 43 yang menjelaskan keadaan orang-orang zalim pada hari kiamat.

“ mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.” (Ibrahim:34)

Yang dapat kita kutip dari ayat diatas adalah “dan hati mereka kosong”. Adapun arti dari kalimat ini adalah “kekosongan”, atau kosong dari akal dan pikiran karena tenggelam dalam keterkejutan dan penasaran.Akan tetapi yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai pengganti kata “udara” adalah kata “angin”, yang termaktub sebanyak 27 kali. Maksud dan artinya sama dengan udara yang bergerak di seputar lapisan bumi.[4]

Angin inilah yang menggiring awan dan membawanya, hingga turunlah hujan yang menghidupkan bumi dari ketandusan. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala🙂

“dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (Al-A’raaf:57)

Dari ayat diatas, dapat diambil penjelasan bahwa sesungguhnya Tuhanmulah yang mengirim angin yang dengan rahmat-Nya mendatangkan hujan. Hujan itu merupakan suatu rahmat dari Allah untuk makhluk-Nya. Apabila angin itu telah membawa awan yang mengandung uap, Kami menuntunnya ke tempat yang kering dan tidak ada airnya. Lalu , Kami menurunkan hujan di tempat yang tandus. Dengan air hujan tersebut Kami menumbuhkan segala rupa buah-buahan dalam berbagai jenis, bentuk, bau, dan rasa. Masing-masing bumi (tanah) mengeluarkan bermacam-macam buah-buahan dan tanaman lain yang menunjuk kepada kodrat, ilmu, rahmat, dan keutamaan Allah.

Atau dapat dijelaskan dalam ayat lain;

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (Ar Ruum:48)

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan- awan, lalu mengaraknya. Dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, makanya awan itu ada yang tebal dan ada yang tipis, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, berkelompok-kelompok, dan berpencar-pencar. Lalu kamu lihat hujan itu keluar dari celah-celah awa yang tebal, mengenai hamaba-hamba yang dikehendaki-Nya. Dan mereka bergembira dengan turunnya hujan itu.[5]

Diantara sekian banyak manfaat angin, adalah kemampuannya menggerakkan kapal-kapal untuk terus berlayar denga izin Allah, agar manusia mencari rezeki dari karuniaNya dan agar mereka senantiasa bersyukur. Angin berfungsi juga untuk mengalirkan air dari satu tempat ke tempat yang lain, dan yang menyebabkan terbaginya hewan-hewan air ke berbagai permukaan air.[6] Sebagaimana ia juga menyebabkan perpindahan dan terpencarnya jenis-jenis hewan dan unggas serta serangga. Dalam kehidupan tumbuh-tumbuhan, anginlah yang membawa benih-benih yang menyebabkan kesuburan dan penyebaran tumbuh-tumbuhan ke berbagai belahan bumi.[7]

Dalam Al-Qur’an, ayat yang menunjukkan kepada hal tersebut di atas adalah,

“dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al-Hijr:22)

Namun, angin juga bisa menjadi bencana bagi mahluk hidup ketika ia menjadi badai misalnya. Ia juga dapat dijadikan alat untuk memberikan hukuman Tuhan kepada manusia, ketika mereka melakukan kezhaliman, atau paling tidak menjadi peringatan kepada mereka. Seperti yang dikatakan di dalam Al-Qur’an:

“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): ‘Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan Kami dari bahaya ini, pastilah Kami akan Termasuk orang-orang yang bersyukur’.”(Yunus:22)

Tuhan telah memberian kepadamu kemampuan (kodrat) berjalan di darat dan di laut dengan memberikan hewan tunggangan dan kemampuan membuat sarana angkutan (transportasi), seperti motor, kereta api, kapal, dan pesawat udara.

Ketika mereka berada dalam perahu (kapal) yang berlayar membawanya dengan memperoleh bantuan angin buritan yang baik, maka merekapun beriang gembira. Tetapi tiba-tiba datanglah angin badai yang hebat yang disertai gelombang ombak yang bergulung-gulung. Menyaksikan bencana yang begitu dahsyat yang diyakini akan memusnahkan dirinya, maka mereka cepat-cepat berdoa kepada Allah denhgan hati yang sangat ikhlas (dalam suasana ini mereka tida lagi berharap kepada berhala-berhalanya). Mereka berkata: “wahai Tuhan kami, jika Engkau benar-benar melepaskan kami dari kebinasaan, tentulah kami menjadi orang-orang yang mensyukuri Engkau.”[8]

Ayat ini memberi pengertian bahwa manusia memang bertabiat kembali kepada Allah, ketika ditimpa bencana. Karena itu kita merasa heran menyaksikan banyak sekali orang Islam yang menghadapakan doanya pada waktu menghadapi bencana kepada pemimpin atau tokoh yang mereka anggap keramat

Dan Allah juga berfirman tentang keadaan kaum musyrik:

“perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang Menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (Ali Imran:117)

Allah telah menghancurkan kaum Adam dengan angin badai karena kekafiran dan kesombongan mereka di atas muka bumi ini,lalu mereka berkata, “siapakah diantara kita yang lebih kuat?”

“dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.” (Adz-Dzariyat:41-42)

Pada kisah pembinasaan kaum Adam, terdapat tanda yang dijadikan sebagai pelajaran yaitu angin yang sama sekali  tidak membawa kebaikan karena tidak membawa air hujan dan tidak dapat menyerbukkan pohon-pohon, angin ini dinamakan angin puting beliung . Angin itu tidak membiarkan suatu apapun baik jiwa maupun harta benda  yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk yakni sebagai barang rongsokan yang tercabik-cabik.[9]

Sebagian manusia terkadang mencela ketika datang angin topan yang sangat kencang dengan membawa debu dan hawa panas, yang akan menyakiti sebagian manusia, mereka lupa bahwa itu semua terjadi atas kehendak Allah dan berjalan sesuai dengan hukuman alam-Nya yang tidak dapat diganti.

Sebab itulah nabi melarang pencelaan terhadap angin. Beliau bersabda,

لاَتَسُبُّوْا الِْريْحَ فَإِنَّهَا مِنْ رُوْحِ اللهِ تَعَالَى تَأْتِيْ بِالرَّحْمَهِ وَالْعَذَابِ وَلَكْنْ سَلُوْالله مِنْ خَيْرِ هَا وَتَعَوَّذُوْا مِنْ شَرّهَا.

Allah Ta’ala berasal dari ruh maka janganlah kalian mencela angin, karena sesungguhnya ia kebaikan dari angin tersebut. Mohonlah kepada Allah Ta’ala yang datang membawa rahmat dan azab serta berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya[10].

Dan yang dimaksud dari angin berasal dari ruh Allah, yaitu angin merupakan salah satu rahmat-Nya yang dikaruniakan kepada hamba-hamba-Nya.Dari bahaya angin yang sangat mungkin datang pada zaman sekarang –wa na’udzubillah min dzalik– yaitu pindahnya pencemaran dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Atau bahkan dari satu benua ke benua yang lain. Apalagi pada gelombang radioaktif, sebagaimana yang terjadi pada reaktor nuklir Uni Soviet (Chernobyl) yang asap racunnya menyebar hingga beberapa mil dari dunia ini melalui angin[11].

Sungguh, nikmat udara merupakan nikmat yang sangat besar. Dengan demikian, menusia dituntut untuk memanfaatkannya sesuai dengan karunia yang telah di anugerahkan Tuhan kepada mereka, dengan tidak mencemari dan tidak merusaknya, yang akan membawa mudharat bagi dirinya dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Akan tatapi, sangatlah disayangkan bahwa sebagian banyak manusia hanya mengedepankan egonya, ketergesaannya dan pemborosan dalam pemakaiannya. Ia sewenang-wenang terhadap nikmat udara tersebut, sebagaimana ia sewenang-wenang terhadap makhluk lainnya, dan terjadilah pencemaran yang mengakibatkan hancurnya suatu masa.

2.4 Sifat Angin Yang Membentuk Hujan

            Dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya.

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)[12]

Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran “mengawinkan” dari angin dalam pembentukan hujan.

Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:

Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. . Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan[13].

Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah terjadi.Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam.

BAB III

KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Udara merupakan pembauran gas yang mengisi ruang bumi,dan uap air yang mengikutinya dari segala penjuru. Udara, ia terbentuk dari ratusan unsure, dengan dua unsure yang paling dominan. Nitrogen yang mencapai sekitar 78,084 persen dan oksigen sebanyak 20,964 persen, dan 1 persen sisanya adalah unsus-unsur lain.

Udara banyak sekali manfaatnya di dalam kehidupan kita. Membantu kita dalam proses pernafasan, membantu metabolisme kehidupan tumbuhan dan hewan, membantu sirkulasi kehidupan alam semesta, dan masih banyak lagi. Yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai pengganti kata “udara” adalah kata “angin”, yang termaktub sebanyak 27 kali. Maksud dan artinya sama dengan udara yang bergerak di seputar lapisan bumi. Angin inilah yang menggiring awan dan membawanya, hingga turunlah hujan yang menghidupkan bumi dari ketandusan.

Sekian banyak manfaat angin, adalah kemampuannya menggerakkan kapal-kapal untuk terus berlayar denga izin Allah, agar manusia mencari rezeki dari karuniaNya dan agar mereka senantiasa bersyukur. Angin berfungsi juga untuk mengalirkan air dari satu tempat ke tempat yang lain, dan yang menyebabkan terbaginya hewan-hewan air ke berbagai permukaan air. Sebagaimana ia juga menyebabkan perpindahan dan terpencarnya jenis-jenis hewan dan unggas serta serangga. Dalam kehidupan tumbuh-tumbuhan, anginlah yang membawa benih-benih yang menyebabkan kesuburan dan penyebaran tumbuh-tumbuhan ke berbagai belahan bumi.

UDARA

DAFTAR PUSTAKA

Amirta, Yolanda. 2007. Sehat Murah dengan Air. Yogyakarta: Keluarga dokter

Al-Ghazali, Syekh Imam. 2002. Keajaiban Dua Makhluk Allah. Surabaya : Pustaka              Media

Bucaille, Maurice. 1979. Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern. Jakarta: Bulan Bintang

Imani, Allamah Kamal. 2006. Tafsir Nurul Qur’an. Jakarta : Nurul Huda

Purwanto, Agus. 2008. Ayat-ayat Semesta Sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan. Bandung: Mizan

www.keajaibanalquran.com


[2]Maurice Bucaille, Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern,(Jakarta: Bulan Bintang,1979)

[3] Source : www.pendidikanlingkungan.com

[4] Allamah Kamal Imani, Tafsir nurul Qur’an, (Jakarta: Nurul Huda, 2006), hlm 43

[5] Imam Al Ghazali, Keajaiban-keajaiban Makhluk Allah, (Surabaya: Pustaka Media,2002) hlm.31

[6] Imam Al Ghazali, Keajaiban-keajaiban Makhluk Allah, (Surabaya: Pustaka Media,2002) hlm.32

[7]  Lihat, Qadhaya Al-Bi’ah min Manzhur Al-Islami/Abdul Majid An-Najjar, yang disalin dari Ilmu Al-Bi’ah karya Ulya Hatukh dan Muhammad Hamdan, hal 92

[8] Lihat, Qadhaya Al-Bi’ah min Manzhur Al-Islami/Abdul Majid An-Najjar, yang disalin dari Ilmu Al-Bi’ah karya Ulya Hatukh dan Muhammad Hamdan, hal 92

[9] Allamah Kamal Imani, Tafsir nurul Qur’an, (Jakarta: Nurul Huda, 2006), hlm 43

[10] HR. Ahmad dari Abu Hurairah, Musnad (2/268,409, dan 518). Dan Ibnu Majjah, kitab Al-Adab (3727). Hadits ini disebutkan dalam Shahih Al-Jami’ Ash Saghir (7316)

[11] Ibid.Hal 2/268,409, dan 518

[12] Imam Al Ghazali, Keajaiban-keajaiban Makhluk Allah, (Surabaya: Pustaka Media,2002) hlm.31

jangan lupa komentar ya................

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s