Geopolitik Tripolar

Posted on Updated on


Munculnya klub pemimpin anti­AS di Amerika Latin saat ini tidak lepas dari tiga fakta penting.
Pertama, Chavez dan kawan­kawan adalah produk dari nilai Kelatinan berwatak ultra­nasionalis yang
dibangun oleh para pendahulu mereka sejak tahun 1960­an seperti Andre Gunder Frank di bidang ekonomi, Octavio Paz di bidang antropologi dan sosiologi, Pablo Neruda dan Gabriel Marquez di bidang kebudayaan. Di tahun 1970­an, muncul ahli ekonomi mazhab strukturalis, Raoul Prebisch, yang di susul pada tahun 1980­an oleh
ekonom Hernando de Soto. Mereka dengan giat menyerukan bahwa baik pemikiran Adam Smith (kapitalisme) maupun Karl Marx (komunisme) tidaklah cocok dengan kondisi Amerika Latin. Oleh karenanya negara­negara Amerika Latin harus mencari bentuk dan sistem ekonominya sendiri.Kedua, sejak tahun 1960­an, negara­negara di Amerika Latin dipimpin oleh para diktator lalim yang didukung AS. Hal ini menyebabkan kejengkelan laten rakyat di banyak negara Amerika Latin.Ket i ga, gerakan­gerakan kemandirian rakyat Amerika Latin dipayungi oleh sayap kiri Gereja Katolik Amerika Latin dengan pertumbuhan pemikiran Teologi Pembebasan yang dipelopori oleh Uskup Dom Helder Camara dan rekan­rekan seperjuangannya.
Munculnya pemimpin­pemimpin ultra nasionalis baru di Amerika Latin dengan sendirinya berdampak pada menurunnya pengaruh AS di kawasan ini. Dalam usaha untuk meraih kembali pengaruhnya di Amerika Latin, pada bulan November 2005 lalu, pemerintah AS mengadakan KTT di Mar del Plata, Argentina. Dalam KTT ini, Presiden Bush mendesak dibentuknya zona perdagangan bebas yang membentang dari Alaska sampai ujung Argentina (FTAA). Namun, beberapa negara peserta KTT termasuk Argentina, Brazil, dan Venezuela menentang usulan ini. KTT pun berakhir tanpa ada hasil.
Munculnya aliansi­aliansi strategis di Eropa, Asia Tengah dan Amerika latin menunjukkan bahwa provokasi Fukuyama dan teori Huntington menjadi tidak relevan. Sejarah belum berakhir. Sosialisme bangkit dengan berbagai revisi dan akomodasi terhadap pasar. Kapitalisme juga diimplementasikan dalam berbagai varian mazhab seperti di Perancis, Jerman, Belanda, dan tentunya juga di Cina yang mengadopsi kapitalisme dan komunisme sekaligus sebagai sistem ekonominya dengan semboyan “satu negara dua
sistem”.
Perbedaan latar belakang kultural­historis tidak menghalangi Iran yang Syi’ah dan Pakistan yang Sunni untuk bergabung dengan blok Cina yang Konfusius dan Rusia yang separuh sekuler dan separuh Katolik Ortodoks. Aliansi­aliansi strategis yang melampui sekat peradaban dan bersifat supranasional itu bersatu di bawah a single logic of rule. Aliansi serupa ini oleh Antonio Negri dan Michael Hardt (2001) disebut sebagaiEmpi r e atau Imperium.
Kehadiran Komunitas UKUSA, Uni Eropa, dan SCO yang disertai dengan segala konflik kepentingan politik dan kepentingan ekonomi di antara mereka dapat menjadi indikasi bahwa peta geopolitik saat ini bisa dikatakan tengah bergeser dari geopolitik unipolar ke geopolitik tripolar. Jika Amerika Latin dapat mengkonsolidasikan kesatuan kebudayaannya yang berumur ratusan tahun menjadi kesatuan ekonomi yang kokoh, dapat pula dikatakan bahwa dunia tengah bergeser ke arah geopolitik
Indonesia dan Geopolitik Tripolar­Hasyim Wahid8
multipolar.
Indonesia: Kemana Harus Bergerak?
Dilihat dari produk undang­undang yang dihasilkan oleh DPR dan pemerintah dan dari kebijakan yang dilaksanakan, terlihat jelas bahwa ekonomi dan politik Indonesia masih dipengaruhi secara kental oleh intervensi luar, khususnya AS. Fakta ini merupakan indikasi bahwa Indonesia adalah sekutu AS secara langsung maupun tidak langsung.
Undang Undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas misalnya mengizinkan pihak swasta (perusahaan multinasional) mengelola sektor migas baik di hulu maupun hilir, seperti tertuang pada pasal 9 ayat (1). Sementara badan usaha yang sudah melakukan kegiatan di sektor hulu, yaitu Pertamina, tak diijinkan melakukan kegiatan yang sama di sektor hilir (Pasal 10, ayat 1).
Dari sudut Undang­Undang Dasar 1945, pengaruh luar dalam pembuatan kebijakan dan juga kesediaan para pemimpin untuk didikte pihak asing merupakan pelanggaran terhadap politik luar negeri yang bebas aktif sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Swastanisasi sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti air, listrik dan migas, juga merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945 terutama pasal 33.
Di satu sisi, pelanggaran terhadap UUD 1945 tersebut merupakan preseden yang sangat buruk bagi kehidupan politik bangsa di masa mendatang. Pelanggaran terhadap hukum tertinggi (konstitusi) sebenarnya merupakan penghancuran terhadap sendi­sendi kehidupan bernegara yang paling dasar.
Di sisi lain, apa yang terjadi selama ini menunjukkan bahwa kalangan pengambil keputusan tertinggi negara terlihat masih terperangkap dalam “mentalitas Perang Dingin”. Akibatnya, pergeseran peta geopolitik dunia tidak bisa dibaca dengan baik oleh mereka. Jika para pengambil kebijakan itu bisa membaca dengan seksama munculnya kekuatan­kekuatan baru dalam percaturan geopolitik internasional, tentu mereka dapat belajar dan bertindak lain. Dengan demikian, kebijakan yang dibuat tidak seperti yang terlihat sekarang ini: merugikan kepentingan nasional (national interest) dan melanggar konstitusi negara.
Fakta geopolitik tripolar dalam sistem dunia saat ini sebenarnya memberi ruang yang sangat terbuka bagi bangsa­bangsa Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, untuk menata kembali sistem ekonomi politiknya dan politik luar negerinya secara bebas aktif dan mandiri. Kemandirian itu sangat penting untuk menjaga tujuan dan kepentingan nasional sehingga seluruh kebijakan negara itu bersumber pada aspirasi masyarakat secara nasional dan ditegakkan untuk kepentingan seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali.
Sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945, empat cita­cita kemerdekaan bangsa adalah (1) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa dan (4) ikut melaksanakan perdamaian dunia. Jadi, seyogyanya sudah sangat jelas alur pikiran dan semangatnya bagi semua warganegara Indonesia, kecuali, tentunya, bagi
Indonesia dan Geopolitik Tripolar­Hasyim Wahid9
mereka yang sengaja menafikan dan melanggarnya untuk kepentingan pribadi, golongan, atau pihak
asing.***
REFERENSI
Anderson, Benedict R O’G, “Old State, New Society: Indonesia’s New Order in Comparative Historical
Perspective,” Journal of Asian Studies, Vol. XLII, No. 3, Mei 1983.
Arrighi, Giovanni & Beverly J. Silver, Chaos and Governance in the Modern World System, London:
University of Minnesota Press, 1999.
Bamyeh, Mohammed A, The Ends of Globalization, London: University of Minnesota Press, 2000.
Barber, Benjamin, Jihad vs. McWorld, New York, Ballantine Books, 1996.
Barton, Greg, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo­Modernisme Nurcholish Madjid,
Djohan Effendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid, Jakarta: Paramadina & Pustaka Antara,
1999.
Bulkin, Farchan, “Negara, Masyarakat dan Ekonomi”,Pri s ma, No. 8, 1984.
Chomsky Noam, Rogue State: The Rule of Force in World Affairs, London: Pluto Press, 2000.
Fukuyama, Francis, The End of History and the Last Man, New York: Avon Books, 1992.
Munck, Ronaldo, “Deconstucting Development Discourses: The Impasses, Alternatives and Politics”,
dalam Ronaldo Munck & Denis O’Hearn (eds.), Critical Development Theory: Contributions to a
New Paradigm, London & New York: Zed Books, 1999.
Negri, Antonio &Michael Hardt,Empi r e, Cambridge, Massachusetts, Harvard University Press, 2001.
Richelson, Jeffrey T. & Desmond Ball, The Ties That Bind: Intelligence Cooperation Between the UKUSA
Countries, London: Allen & Unwin 1985.
Robison, Richard, Indonesia: The Rise of Capital, North Sydney: Allen & Unwin, 1986.
Sundhaussen, Ulf, Politik Militer Indonesia 19545­1967, Jakarta: LP3ES, 1986

jangan lupa komentar ya................

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s