Kerajaan Syafawi

Posted on Updated on


Dalam kurun waktu 1500-1800 M terdapat tiga kerajaan besar yang muncul. Tiga  kerajaan tersebut adalah kerajaan Utsmani di Turki, kerajaan Shafawi di Persia dan kerajaan Mughal di India. Tiga kerajaan besar ini memiliki kejayaan masing-masing, terutama dalam bentuk literatur dan arsitek. Kemajuan umat Islam di masa ini lebih banyak merupakan warisan kemajuan di masa periode klasik. Perhatian pada ilmu pengetahuan masih kurang. Tenyu saja bila dibanding kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya di bidang ilmu pengetahuan. Namun kemajuan pada masa ini terwujud setelah dunia Islam mengalami kemunduran beberapa abad lamanya.

            Ketika kerjaan Utsmani sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Shafawi di Persia baru berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam perkembangan, kerajaan Shafawi sering bentrok dengan Turki Utsmani.

            Ada dua aspek menarik dari pengkajian sejarah kerajaan Syafawi pada 1501-1722 M. Pertama, lahirnya kembali Dinasti Shafawi adalah kebangkitan kembali kejayaan Islam ketika Islam sebelumnya pernah mengalami masa kecemerlangan. Kedua, Dinasti Shafawi telah memberikan kepada Iran semacam “negara nasional” dengan identitas baru, yaitu aliran Syiah yang menurut G.H. Jansen merupakan landasan bagi perkembangan nasionalisme Iran modern.[1]

  1. 1.     Proses Kultural Pembentukan Dinasti Shafawi

Kerajaan Shafawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbeijan.[2] Tarekat ini diberi nama tarekat shafawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Utsmani

Terdapat kontroversi mengenai etimologi kerajaan Shafawi. Menurut Sayid Amir Ali, [3]kata Shafawi berasal dari kata Shafi, suatu gelar bagi nenek moyang raja-raja Shafawi: Shafi Al-Din Ishak Al-Ardabily(1252-1334 M), pendiri dan pemimpin tarekat Shafawiyah. Amir Ali beralasan bahwa para musafir, pedagang dan penulis Eropa selalu menyebut raja-raja Shafawi dengan gelar Shafi Agung. Sedang menurut P.M. Holt dan kawan-kawan.  Shafawi berasal dari kata shafi, yaitu bagian dari nama Shafi Al-Din Ishak Al-Ardabily sendiri.

Shafi Al-Din mendirikan tarekat Shafawiyah setelah ia menggantikan guru sekaligus mertuanya, yakni Syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301 M) yang dikenal dengan julukan Zahid al-Gilani. Pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada fase pertama, gerakan shafawiyah tidak mencampuri masalah politik sehingga ia berjalan dengan lancar dan aman. Pada fase ini gerakan Shafawi mempunyai dua warna. Pertama, bernuansa Sunni, yaitu pada masa pimpinan Shaifudin Ishak (1301-1344 M) dan putranya Shadrudin Musa (1344-1399 M). Kedua, berubah menjadi Syiah pada masa pimpinan Khawaja Ali (1399-1427 M), putra Sadrudin.

Perubahan Shafawi dari gerakan keagamaan ke gerakan plitik cukup menarik karena sebagai tarekat sufi yang lebih bersifat Ukhrawi kemudian menjadi duniawi (profan). Faktor utama yang menyebabkan adana perubahan tersebut adalah ada ajaran tarekat itu sendiri, yaitu hubungan antara pemimpin tarekat dengan pengikut-pengikutnya. Dalam tarekat Shafawi, pemimpin yang meninggal dunia selalu digantikan oleh anaknya seperti dalam kepemimpinan dinasti. Ini menjadi modal dasar yang mendorong perubahan tersebut. Kecenderungan memasuki dunia politik ini mendapatkan wujud nyata pada masa pemerintahan Juneid (1447-1460 M). dinassti Shafawi memperluas gerakan dengan menambahkan kegiatan politik pada setiap kegiatan keagamaan. Perluasan ini menimbulkan konflik antara juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam) yang merypakan salah satu bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik itu, Juneid kalah dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, Ak-Koyunlu (domba putih) yang juga salah satu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian besar Persia.

Pada tahun 1459 M, Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi gagal. Kegagalan yang sama dialaminya pula ketika menyarang daerah utara yang didiami orang-orang Kristen Georgia dan Chircasia. Ia terbunuh penguasa Sirwan yang dilaluinya pada 1460 M. Putera Juneid, Haidar, mennggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemimpin. Kemenangan Ak-Koyunlu tahun 1476 M terhadap Kara Koyunlu, membuat gerakan militer Shafawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh Ak-Koyunlu. Ak-Koyunlu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan dinasti shafawi. Karena itu, ketika Shafawi menyerang wilayah Chircasia dan pasukan Sirwan, Ak-Koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.

Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentara untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap Ak-Koyunlu. Tetapi Ya’kub pemimpin AK-Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya, Ibrahim dan Ismail, dan ibunya di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Situasi ini mendorong pengikut-pengikut Shafawi di Persia, Armenia, Anatolia dan Syria mengonsolidasikan kekuatan sendiri sehingga Ali dilepaskan.Tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama. Ketika penguasa Ak-Koyunlu berikutnya dipegang Rustam, Ali ditangkap lagi dan dibuang ke Ray sampai akhirnya dibunuh.

Sebelum meninggal,Ali sempat mengangkat adik bungsunya, Ismail bin Haidar yang waktu itu masih berusia tujuh tahun untuk menjadi pemimpin Shafawi. Ismail yang masih remaja berusaha memanfaatkan kedudukanya sebagai mursyid Shafawiyah dan pemimpin gerakan Shafawi untuk mengonsolidasikan kekuatan politiknya. Seacara sembunyi-sembunyi Ia menjalin hubungan dengan para pengikut-pengikutnya yang tersebar luas di Azerbaijan, Syiria dan Anatolia.Pasukan yang dipersiapkan itu diberi nama Qizilbash (baret merah) yang bermarkas di Gilan. Dalam kurun waktu kurang lebih lima tahun, Ia berhasil menyatukan kekuatan politik yang sangat besar dan mulai melakukan perhitungan terhadap musuh-musuh Shafawi selama ini, seperti penguasa Ak-Koyunlu dan Sirwan. Pada tahun 1501 M, pecah pertempuran antara Ak-Koyunlu dengan Shafawi di Sahrut dekat Nakhiwan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukan Tabriz, ibu kota Ak-Koyunlu dan berhasil kerebut serta mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan berdirinya kerajaan Shafawi. Ismail kemudian menjadi raja pertama dan menjadikan Syiah Itsna Asyariah sebagai ideologi negara. Ia juga disebut juga Ismail I.

2.   Masa pemerintahan Kerajaan Shafawi

Peran raja Ismail sebagai pendiri kerajaan Shafawi sangat besar sebagai peletakpondasi bagi kemajuan Shafawi di kemudian hari. Di samping telah memberikan corak yang khas bagi Shafawi dengan menetapkan Syiah sebagai agama negara, raja Ismail juga telah memberikan dua karya besar bagi negaranya, yaitu perluasan wilayah dan penyusunan struktur pemerintahan yang unik pada masanya.

Ismail I berkuasa selama lebih kurang 23 tahun, yaitu antara tahun 1501-1542 M. pada sepuluh tahun pertama Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaanya. Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan Ak-koyunlu di Hamdan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di nazandaran, Gurgan, dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507 M), Baghdad dan daerah barat daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M), dan Khurasan (1510 M). Hanya dalam waktu 10 tahun wilayah kekuasaanya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan sabit Subur (Fortile Crescent).

Ambisi politik mendorong raja Ismail untuk terus mengembangkan kekuasaanya ke daerah-daerah lain seperti ke Turki Utsmani. Namun, kerajaan Shafawi bukan hanya menghadapi musuh yang sangat kuat tetapi juaga sangat mebenci golongan Syiah. Peperangan dengan Turki Utsmani terjadi pada tahun 1514 m di Chaldiran, dekat Tabriz. Karena keunggulan organisasi militer Kerajaan Utsmani, Kerajaan Shafawi kalah dalam peperangan, malah Turki Utsmani dibawah pimpinan Sultan salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Shafawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Utsmani karena terjadi perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya.

Rasa permusuhan dengan Kerajaan Turki Utsmani terus berlangsung. Peperangan-peperangan antara dua kerajaan besar islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). pada masa tiga raja tersebut kerajaan shafawi dalam keadaan lemah. Kondisi memprihatinkan ini baru bisa diatasi setelah raja Shafawi kelima Abbas I naik tahta. Langkah-langkah yang itempuh oleh Abbas I dalm rangka memulihkan Kerajaan shafawi, ialah:

a)    Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Shafawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggota-anggotanya terdiri dari budak-budak, berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Chircasia yang telah ada sejak raja Tahmasp I.6

b)   Mangadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmani.

c)    Menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan sebagian wilayah Luristan kepada Kerajaan Turki Utsmani.

d)   Tidak menghina tiga khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, dan Usman bin Affan) dalam khotbah-khotbah jum’at.

e)    Menyerahkan saudara sepupunya, Haidar mirza sebagai sendera di Istambul.

Usaha-usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Shafawi kuat kembali. Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayan dari Kerajaan Shafawi. Secara politik, ia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya.

3.  Wujud dan Corak Kemajuan Kerajaan Shafawi

Kemajuan yang dicapai oleh Kerajaan Shafawi tidak hanya terbatas di bidang politik. Di bidang yang alin, kerajaan ini juga mengalami banyak kemajuan. Kemajuan-kaemajuan itu antara lain, adalah:

a)    Kemajuan di Bidang Politik

Pengertian kemajuan dalam bidang politik adalah terciptanya integritas wilayah negara yang luas yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata yang tangguh dan diatur oleh suatu pemerintahan yang kuat serta mampu memainkan peranan dalam percaturan politik internasional.

Raja Abbas I membentuk suatu angkatan bersenjata reguler. Inti satuan militer ini direkrutnya dari bekas tawanan perang, bekas orang-rang kristen di Georgia dan Chircasia yang sudah ada di Persia sejak raja Tahmasb I. Mereka diberi gelar “ghulam”. Mereka dibina dengan pendidikan militer yang militan dan dpersenjatai secara modern. Sebagai pimpinanya, raja Abbas I mangangkat Allahwardi Khan, salah seorang dari ghulam. Dalam membangun ghulam. Raja Abbas I mendapat dukungan dari dua orang Inggris, yaitu sir Antoni Sherli dan saudaranya, Sir Rodet sherli. Mereka mengajari tentara shafawi untuk membuat meriam sebagai perlengkapan tentara yang modern.

b)   Kemajuan di Bidang Ekonomi

Kemajuan ekonomi terutama di bidang ekonomi. Pada masa raja Abbas I, kerajaan shafawi menguasai hormuz,bahkan membangun sendiri kota dagang Bandar Abbas di teluk Persia. Dengan ini, Shafawi telah memegang kunci perdagangan di lautan, khususnya di teluk Persia yang ramai. Sedangkan di utara, disekitar laut Kaspia, Shafawi juga membangun kerja sama dengan Rusia. Perdagangan dari darat sentral Asia, tetapi melalui kota-kota penting Shafawi, seperti heart (Harat), Merv, Nishafur, Tabriz, dan Baghdad.

Di samping sektor perdagangan, Kerajaan Shafawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit (Fortil Crescent).

c)    Kemajuan FisikTata Kota dan Seni

Para penguasa kerajaan ini telah berhasil menciptakan isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah.di kota tersebut, berdiri bangunan-bangunan besar dan indah seperti masjid-masjid, rumah-rumah saki, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas zende Rud, dan istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan taman-taman wisata yang ditata secara apik. Ketika raja Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan, dan 273 pemandian umum.7

Di bidang seni, kemajuan tampak dalam gaya arsitektur bangunan-bangunanya, seperti terlihat pada masjid Syah yang dibangun 1611 M dan masjid Syaikh Lutf Allah yang dibangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Seni lukis mulai dirintis sejak zaman raja Tahmasb I pada tahun 1522 m membawa seorang [elukis timur ke Tabriz. Pelukis itu bernama Bizhad.

d)   Kemajuan di Bidang Filsafat dan Sains

Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kerajaan Shafawi tradisi keilmuwan ini terus berlanjut.

Menurut Hodgson, ada dua aliran filsafat yang berkembang pada masa shafawi tersebut. Pertama, aliran filsafat “perifatetik” sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Al-Farabi. Kedua, filsafat “Isyarqi” yang dibawa oleh suhrawardi pada abad XII. Di bidang filsafat ini muncul beberapa nama filsuf diantaranya, Mir Damad alias Muhammad Baqir Damad (w. 1631 M) yang dianggap guru ketiga (mu’alim tsalits) sesudah Aristoteles dan Al-Farabi.

Beberapa ilmuwan yang selalu hadir di majlis istana, yaitu Baha Al-din Al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar Al-Din Al-syaerazi, dan seorang yang pernah mangadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah. Dalam bidang ini, kerajaan Shafawi mungkin dikatakan lebih berhasil dari dua kerajaan besar Islam lainnya pada masa yang sama.

KERAJAAN MUGHAL DI INDIA

  1. 1.       Awal Mula Berdirinya Kerajaan Mughal

Kerajaan Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi. Jadi, di antar tiga kerajaan besar Islam tersebut, kerajaan inilah yang termuda. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa Khalifah Al-Walid, dari dinasti Bani Umayyah. Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani Umayyah di bawah pimpinan Muhammad ibn Qasim.[4]Pada fase desintegrasi, dinasti Ghaznawi mengembangkan kekuasaannya di India di bawah pimpinan Sultan Mahmud dan pada tahun 1020 M, ia berhasil menaklukkan hampir semua kerajaan Hindu di wilayah ini, sekaligus mengislamkan sebagian masyarakatnya.[5] Setelah dinasti Ghaznawi hancur, muncul dinasti-dinasti kecil seperti Mamluk (1206-1290 M), Khalji (1296-1316 M), Tuglug (1329-1412 M), dan dinasti-dinasti lain.[6]

Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai ibu kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M), salah satu dari cucu Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekad akan menaklukkan Samarkhand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya, ia mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi, Ismail 1 akhirnya berhasil menaklukkan Samarkhand tahun 1494 M. Pada tahun 1504 M, ia memnduduki Kabul, ibu kota Afghanistan.

Setelah Kabul dapat ditaklukkan, Babur memeruskan ekspansinya ke India. Kala itu Ibrahim Lodi, penguasa India, dilanda krisis, sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, bersama-sama Daulat Khan, Gubernur Lahore, mengirim utusan ke Kabul, meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahimdi Delhi.[7]Permohonan itu langsung diterimanya. Pada tahun 1525 M, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kotanya Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada tanggal 21 April 1526 M, terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipat. Ibrahim beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu.[8]  Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana. Denagn demikian, berdirilah Kerajaan Mughal di India.

  1. 2.       Masa Pemerintahan Kerajaan Mughal

Diantara raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Mughal adalah :

  1. Pemerintahan Babur

Pemerintahan ini diwarnai masa konsolidasi kekuasaan dengan mewarisi pemerintahan sebelumnya. Pada masa ini raja-raja Hindu Rajputh (seperti Rana Sanga) di seluruh India bangkit kembali mencoba melepaskan dari kekuasaan Islam. Mereka memberontak antara tahun 1526 dan 1527 M. Tampaknya hal ini memanfaatkan masa-masa transisi politik dari penguasa-penguasa Turki ke penguasa Mongol-selanjutnya di sebut Mughal. Babur dapat meredam gejolak politik ini. Kemudian di Afganistan masih ada golongan yang setia kepada keluarga Lodi sebagai penguasa di sana. Namun Babur dapat menyelesaikan dengan pertempuran di Gograth 1529 M.

Dengan demikian, masa pemerintahan Babur ditandai oleh dua persoalan besar, yakni bangkitnya kerajaan-kerajaan Hindu dan munculnya penguasa Muslim yang tidak mengakui pemerintahnya di Afganistan. Pada tahun 1530 M, Babur meinggal dunia dengan mewariskan wilayah kekuasaan yang begitu luas dan karier politik yang sangat cemerlang.[9]  Ia menyerahkan kekuasaanya kepada putera sulungnya Humayun.

  1. Pemerintahan Humayun

Ia memerintah antara tahun 1530-1539 M dan 1555-556 M. Periode pemerintahannya banyak diwarnai kerusuhan dan berbagai pemberontakkan. Hal ini dimungkinkan karena usia pemerintahannya yang diwariskan ayahnya ini masih relatif muda dan belum stabil, seperti juga terjadi sebelumnya. Salah satu dinasti dari Afganistan yang t itu diperintah Sher Khan Suri menginvasinya pada tahun 1539 M ke pusat pemerintahan Humayun di Delhi. Pasukan Humayun hancur dan negara dalam kondisi tak menentu. Akan tetapi, Humayun dapat meloloskan diri ke Persia dan diterima dengan baik oleh Sultan Safawi, Shah Tahmasph. Di sinilah ia mengenal tradisi syiah bahkan sering dibujuk untuk memasukinya, termasuk anaknya Jalaludin Muhammad Akbar. Di sini pula ia membangun kembali kekuatan militer yang telah hancur, dan berkat bantuan Shah Tahmasph yang memberinya pasukan militer Delhi.

Pada tahun 1555M ia menyerbu Delhi yang saat itu di perintah Sikandar sur. Akhirnya, ia bisa memasuki kota ini dan ia bisa memerintah kembali sampai tahun 1556 M. Pada tahun 1556 M, ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Jalaludin Muhammad Akbar.

  1. Pemerintahan Akbar

Ia adalah sultan yang sangat terkenal dari dinasti ini, dan ialah yang sebenarnya menciptakan sistem kerajaan ini.[10]Sultan Akbar terkenal dengan gagasan-gagasannya yang sangat radikal dan liberal baik dalam aspek sosial atau pemikiran keagamaan. Masa pemerintahannya sangat berhasil dan cukup stabil, bahkan wilayah-wilayah kekuasaannya semakin luas seperti Chundar, Ghond, Chitor, Rantabar, Surat, Behar, Bengal, Kashmir, Orissa, Dekan Gawilghard, Narhala, Alamghar dan Asirghar.[11]

Dasar-dasar kebajiakan sosialnya dengan politik sulakhul (toleransi universal). Dengan cara ini, semua rakyat dipandang sama, mereka tidak dibedakan sama sekali oleh ketentuan agama atau lapisan sosial. Di antara reformasi itu adalah :

  1. Menghapuskan jizyah bagi non-Muslim;
  2. Memberikan pelayanan pendidikan dan pengajaran yang sama bagi setiap masyarakat, yakni dengan mendirikan madrasah-madrasah dan memberi tanah-tanah wakaf bagi lembaga-lembaga sufi berupa iqtha atau madad ma’asy;

Aspek penting lainnya dari pembaruannya adalah menciptakan Din Iiahy yang ciri-ciri pentingnya adalah :

  1. Percaya pada keesaan Tuhan;
  2. Akbar sebagai khalifah Tuhan dan seorang padash (al-insan al-kamil); ia mewakili Tuhan di muka bumi dan selalu mendapat bimbingan langsung dari Tuhan; ia terma’shum dari segala kesalahan;
  3. Semua pemimpin agama harus tunduk dan sujud pada Akbar
  4. Sebagai manusia padash, ia berpantangan memakan daging (vegetarian);
  5. Menghormati api dan matahari sebagai simbol kehidupan;
  6. Hari ahad sebagai hari resmi ibadah;
  7. “Assalamualaikum” diganti “Allahu Akbar” dan “Alaikum salam” diganti “jalla jalalah.”[12]

Sebenarnya masih banyak kebajikan-kebajikan lain yang umumnya lebih mementingkan persatuan politik, sekalipun dengan banyak mengorbankan nilai-nilai syariah Islam. Inilah periode yang betul-betul “sinkretik” membumi di India ;suatu usaha “pemerintahan Islam” untuk bisa diterima di kalangan rakyat India. Sultan Akbar ingin menembus batas-batas terdalam tradisi Hinduistik dan agama-agama lain di India. Ia meninggal pada tahun 1605 M setelah menderita sakit yang cukup parah. Kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dapat dipertahankan oleh sultan-sultan selanjutnya, antar lain Jahangir (1605-1627), Syah Jehan (1628-1658 M), dan Aurangzeb (1659-1707 M). Ketiganya merupakan sultan-sultan besar Mughal yang didukung dengan berbagai kecakapan dan kekuatan militer.[13] Setelah mereka, sulit ditemukan sultan-sultan yang tangguh.

  1. Pemerintahan Jahangir

Periode Jahangir (1605-1627 M) adalah masa-masa stabil. Ia memerintah didasarkan pada pandangan yang pragmatis dalam melihat sebuah fungsi kepemimpinan. Menurutnya, kedaulatan raja adalah pemberian Tuhan. Dengan demikian, tidak begitu penting menjalankan hukum Tuhan (syariah). Yang diperlukan adalah bagaimana memelihara kelestarian kehidupan duniawi ini, dan Tuhan memilih seseorang pemimpin sesuai dengan posisi kewibawaan yang dimiliki pemimpin itu. Teori-teori kenegaraan pada masa Jahangir ini menggunakan konsep Perso-Islamic yang banyak digunakan Nizham Al-Mulk dan Al-Ghazali di Bagdad.

Ia menerapkan hukum Islam hanya sebatas pada lembaga pengadilan saja seperti pada masa ayahnya, Akbar.[14] Dalam kasus umum, hukum islam hanya berlaku bagi umat Islam, sedangkan hukum kriminal baerlaku bagi sebelumnya. Jahangir adalah sultan yang toleran dan sekuler serta punya kebijakan-kebijakan politik yang liberal, seperti yang diteladani dari ayahnya, Akbar. Kegiatan politiknya telah menghasilkan warna budaya “Indo-Islam.” Ia memiliki penasehat politik seperti muhammad Baqir najm-i Sani, seorang ulama dan prajurit yang gagasan-gagasannya dituangkan dalam kitab Mauidzah-I jahangir dengan pendekatan yang sangat pragmatik dalam menangani segala persoalan politik, ditulis sejak tahun 1612 M.

  1. Pemerintahan Syah Jehan

Ia melanjutkan pemerintahan Jahangir. Pada periode ini kondisi negara-negara betul-betul sangat stabil dan mengalami puncak keemasan yang luar biasa di antara kesultanan Mughal, kecuali pada periode akbar dan setelah syah jehan, Aurangzeb. Pada periode ini dikembangkan kembali penaklukan wilayah sampai melampaui batas-batas India. Kesan-kesan keberhasilannya diwarnai dengan suksesnya menata politik kenegaraanya. Pembangunan ekonomi dimulai dari pengembangan sistem irigasi di Rav sepanjang 98 km wilayah pertanian subur. Sistem perdagangan ia kembangkan dengan sistem ekspor-impor dari industri-industri yang dikembangkannya seperti tekstil,keramidan kerajinan tangan lainnya.[15]Pos-pos perdagangan dibangkitkan kembali. Sistem penataan sosial lebih banyak melestarikan para pendahulunya. Keamanan pada periode ini jauh lebih baik dibandingkan periode-periode sebelumnya, bahkan Portugis yang mulai singgah di perairan India dapat diusirnya. Di bidang kebudayaan menunjukkan suatu atmosfer yang sangat gemilang; sebagai puncak masa kemakmuran antara perpaduan Turki, Mongol, Persia dan India; yang terlihat pada bangunan-bangunan Tajmahal, masjid-masjid dan lain sebagainya.[16]

Faktor-faktor yang mendorong puncak kemajuannya adalah sebagia berikut.

  1. Syeh Jehan adalah seorang yang terpelajar, ia memiliki bakat kepemimpinan dan memiliki jiwa intelektual dan seni;
  2. Kondisi sosial-politik sangat sabil-mewakili kondisi sebelumnya. Kemakmuran di bidang ekonomi danukungan rakyat yang sangat simpatik.
  3. Memberikan penghargaan yang luar biasa kepada para ilmuwan dan ahli seni dan bangunan. Ia sebagai pelindung dkegiatan-kegiatan seni dan budaya. Ia peminat lukisan, pandai menyanyi dan peminat karya-karya kesusastraan.[17]

  1. Pemerintahan Pasca-Aurangzeb

Sepeninggal Aurangzeb tahun 1707 M, kesultanan Mughal di perintah oleh generasi-generasi yang lemah. Sampai tahun 1858 M, sultan-sultan Mughal tidak mampu lagi mengendalikan wilayah yang cukup luas dan kekuatan lokal Hindu yang cukup dinamis, di samping karena konflik di antara mereka sendiri yang berebut kekuasaan. Di antara sultan-sultan itu adalah Bahadur Syah (1707-1719 M), Azimusyah (1712-1713 M), Farukh Siyar (1713-1719 M), Muhammad Syah (1719-1748 M). Sekalipun pada periode ini dilakukan restotarsi, tetapi tetap tidak bisa mengembalikan kewibawaan Ahmad Syah (1748-1754 M), Alamghir II (1754-1759 M), Syah Alam (1761-1806 M) dan Akbar II (1806-1837 M).

Pada masa Akbar II, diberikan kesempatan pada koloni dagang Inggris (EIC) untuk menggunakan tanah-tanah yang merdeka dengan jaminan para sultan mendapat dana untuk menghidupi kegiatan istana. Ketika organisasi dagang ini mengalami berbagai kerugian, pihak Inggris mengambil pajak langsung kepada seluruh rakyat India atas jaminan sultan. Akhirnya, terjadi pemberontakan di berbagai wilayah. Pengganti Akbar II adalah Bahadur Syah II (1837-1858 M) tidak menerima kebijakan ayahnya dan ia mengorganisasi rakyat untuk melawan koloni Inggris, akan tetapi karena bantuan raja-raja Hindu, Inggris dapat mematahkan perlawanan mereka yang berakhir dengan ditawan dan diasingkan Bahadur Syah II pada tahun 1858.[18]

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan Mughal mundur pada setengah abad terakhir dan membawa kehancuran, yakni:

  1. Terjadinya stagnasi dalam membina kekuatan sehingga kehadiran Inggris tidak bisa terkontrol
  2. Kemerosotan moral di kalangan istana sehingga menimbulakan berabagi kecemburuan di kalangan para politisii dan rakyat bawahan;
  3. Ide-ide Aurabfzeb menjadi bumerang bagi sultan-sultan yang lemah, yakni menimbulkan kembali fanatisme non-Muslim, terutama Hindu;
  4. Semua sultan pada periode ini mengalami krisis kepemimpinan.

  1. 3.       Wujud dan Corak Kemajuan Kerajaan Mughal

Kemajuan yang dapat dibanggakan pada masa ini hanya dalam bidang politik, kemiliteran, ekonomi, dan keseniaan.

  1. Bidang ekonomi

Kemajuan mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan dan perdagangan. Akan tetapi, sumber keuangan Negara lebih banyak bertumpu pada sector pertanian. Di sector ini, komunikasi antara pemerintah dan petani diatur dengan baik. Pengaturan itu didasarkan atas lahan pertanian. Deh, merupakan unit lahan pertaniaan kecil. Beberapa deh tergabumg dalam pangana(desa). Komunitas petani dipimpin oleh seseorang mukaddim. Melalui para mukaddam itulah pemerintah berhubungan dengan petani. Kerajaan berhak atas sepertiga dari hasil pertanian di negeri itu. Hasil pertaniaan kerajaan mughal yang terpenting adalah bijian- bijian, padi, kacang, tebu, sayur- sayuran, rempah- rempah, tembakau, kapas nila, dan bahan- bahan celupan. Disamping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil pertanian itu diekspor ke eropa, Arabia, dan asia tenggara bersamaan dengan hasil kerajaan seperti pakaian tenun dan kain tipis, bahan gordyn yang banyak diproduksi di Gujarat dan Bengal. Untuk meningkatkan produksi, jehangir mengizinkan inggris(1661) dan belanda(1667) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di surat.

  1. Bidang seni dan budaya

Karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun berbahasa india. Penyair india yang terkenal adalah malik Muhammad jayati, seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar berjudul padmavat, sebuah karya alegoris yang mengundang pesan kebajikan jiwa manusia. Pada masa Aurangzeb, muncul seorang sejarawan yang bernama abu fadl dengan karyanya akbar nama dan aini akhbari, yang memaparkan sejarah kerajaan mughal berdasarkan figure kepemimpinanya. Karya seni yang masih dinikmati sekarang dan merupakan karya seni yang dicapai kerajaan mughal adalah karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Antara lain istana fatpur sikri di sikri, villa, masjid berlapiskan mutiara, tajmahal di aqra, masjid raya delhi dan istana indah di Lahore.

  1. Bidang militer

Kemajuan mughal dalam pemeintahan tersebut, sultan adalah penguasa ditaktor, pemerintahan daerah dipegang oleh seorang sipah salar(kepala komandan), sedang subdistrik dipegang oleh faujdar(komandan) jabatan sipiiberil juga diberi jenjang kepangkatan yang bercorak kemiliteran. Pejabat- pejabat itu memang diharuskan memang diharuskan mengikuti pelatihan kemiliteran.

  1. Bidang politik

Dalam bidang politik ini, diterapkan apa yang dinamakan dengan politik sulakhul(toleransi/universal). Dengan politik ini, semua rakyat india dipandang sama. Mereka tidak dibedakan karena perbedaan etnis dan agama

  1. 4.       Kemunduran dan  Runtuhnya Kerajaan Mughal

Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memeasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para pedangang Inggris untuk pertama kalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.

Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap peerintahan pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya.

Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah. Pemerintahan daerah satu per satu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat, bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahannya masing-masing. Hiderabad dikuasai Nizam Al-Mulk, Marathas dikuasai shivaji, Rajput menyelenggarakan pemerintahan sendiri di bawah pimpinan sendiri di bawah pimpinan Jai Singh dari Amber, Punjab dikuasai oleh kelompok Sikh. Oudh dikuasai oleh Sadat Khan, Bengal dikuasai Syuja’ Al-Din, menantu Mursyid Qulli, penguasa Bengal yang diangkat Aurangzeb. Sementara wilayah-wilayah pantai banyak yang dikuasai para pedagang asing, terutama EIC dari Inggris.[19]

Desintegrasi wilayah kekuasaan Mughal ini semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang disamping melepaskan loyalitas terhadap pemerintahan pusat, juga mereka senantiasa menjadi ancaman serius bagi eksistensi dinasti Mughal itu sendiri.

Ketika kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti ini, pada tahun itu juga, perusahaan Inggris (EIC) yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan pemerintah Kerajaan Mughal. Peperangan berlangsung berlarut-larut. Akhirnya, Syah Alam membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Oudh, Bengal, dan Orisa kepada Inggris.[20]Sementara itu, Najib Al-Daula, wazir Mughal dikalahkan oleh aliansi Sikh Hindu, sehingga Delhi dikuasai Sindhia dari Marathas. Akan tetapi, Sindhia dapat dihalau kembali oleh Syah Alam dengan bantuan Inggris (1803 M)[21]

Syah Alam meninggal tahun 1806 M. Tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh Akbar II (1806-1837 M).

Pada masa pemerintahan Akbar memeberi konsensi kepada EIC untuk mengembangkan usahanya di anak benua India sebagaimana yang diinginkan Inggris, tapi pihak perusahaan harus menjamin kehidupan raja dan keluarga istana. Dengan demikian, kekuasaan sudah berada di tangan Inggris, meskipun kedudukan dan gelar sultan dipertahankan. Bahadur Syah (1837-1858 M), penerus Akbar, tidak menerima isi perjanjian antara EIC dengan ayahnya itu, sehingga terjadi konflik antara dua kekuatan tersebut.

Pada waktu yang sama, pihak EIC mengalami kerugian, karena penyelenggaraan administrasi perusahaan yang kurang efisien, padahal mereka harus tetap menjamin kehidupan istana. Untuk menutupi kerugian dan sekaligus memenuhi kebutuhanistana, EIC mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditakan, maka mereka, baik yang beragama Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan. Mereka meminta kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambang perlawanan itu dalam rangka mengembalikan kekuasaan Kerajaan Mughal di India. Dengan demikian, terjadilah perlawanan rakyat India terhadap kekuatan inggris pada bulan Mei 1857 M.

Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah, karena Inggris mendapat dukungan dari beberapa penguasa lokal Hindu dan Muslim. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota delhi, rumah-rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858 M).[22]Dengan demikian, berakhirlah sejarah kekuasaan dinasti Mughal di daratan India dan tinggallah di sana umat Islam yang harus berjuang mempertahankan eksistensi mereka.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M, yaitu :

  1. Terjadilah stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.
  2. Kemerosotan moral dan hidup newah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
  3. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
  4. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.


[1] G.H. Jansen, Islam Militan,Terj.Armahedi Mazhar, (Bandung: Pustaka, Cet.1,1980), hlm.234.

[2] P.M. Holt, dkk, The Cambridge History of Islam, vol. I A,(London Cambridge University Press, 1970), hlm.394.

[3] Sayid Amir Ali, The Spirit of Islam, (New Delhi: Idarrat Al-Arabiyah, t.t.), hl.491.

[4] Syed Mahmudunnasir, op. Cit., hlm. 183

[5] Ibid.

[6] Harun Nasution, op. Cit., hlm. 82

[7] P. M. Holt (Ed.), op. Cit.,, vol. 2, hlm. 22

[8] Ibid., hlm. 36

[9] Badri Yatim, op. Cit., hlm. 148

[10] Sayid Alvi mengomentari din ilaahi Akbar tidak lebih dari sekedar jenis tarikat yang diciptakan Akbar dalam mencari kebenaran agama. Kemunculannya dilatarbelakangi oleh persoalan yang sangat kompleks. Lembaga yang diciptakannya “Ibadah Khanah” adalah tempat berdiskusi berbagai tokoh agama Islam, Hindu, Buddha, Nasrani dan Zoroaster yang jumlahnya tidak kurang enam belas orang dan bersifat tertutup.

[11] Badri Yatim, loc. Cit., hlm. 149.

[12] Jahid Haji Sidek, Strategi Menjawab Sejarah Islam, (Kuala Lumpur: Nuirin Interprise, 1984), hlm. 234-235.

[13] Amir K. Ali, loc. Cit., hlm. 355.

[14] Sistem keadilan lebih diutamakan daripada kebenaran agama pada masa ini. Jahangir mencoba mencari simpati masyarakat Hindu dengan bertemu tokoh-tokoh Hindu Hermit.

[15] Jahid Haji Sidek, loc. Cit. Hlm. 245-249.

[16] Inilah karya yang monumental dalam perkembangan arsitektur Islam.

[17] Di antara penyanyi kesayangan istana pada masa ini adalah Ramdamas dan Mahapatar, sedangkan sastrawan di antaranya Abdul Hakim.

[18] Badri Yatim, Loc. Cit., hlm. 159-162.

[19] K. M. Panikar, A Survey of Indian history, (Bombay: asia Publising House, 1957), hlm. 187.

[20] Hamka, op. Cit., hlm. 163

[21] S. M. Ikram, op. Cit., hlm. 268.

[22] Ibid., hlm. 227.

jangan lupa komentar ya................

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s